thanks buaat adik manis Hercule

Ensiklopedi Hadist Part 1

HADIS (Ar.: hadis = baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, cerita).

Menurut ahli hadis: segala ucapan, perbuatan, dan keadaan Nabi Muhammad SAW atau segala berita yang bersumber dari Nabi SAW berupa ucapan, perbuatan, takrir (peneguh-an kebenaran dengan alasan), maupun deskripsi sifat-sifat Nabi SAW. Menurut ahli usul fikih: segala perkataan, perbuatan, dan takrir Nabi SAW yang bersangkut-paut dengan hukum.

Istilah lain untuk sebutan hadis ialah sunah, kabar, dan asar.

Menurut sebagian ulama, cakupan sunah lebih luas karena ia diberi pengertian segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa per­kataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, dan baik itu terjadi sebelum masa kerasulan maupun sesudahnya. Selain itu titik berat penekanan sunah adalah kebiasaan normatif Nabi SAW.

Kabar yang berarti berita atau warta, selain dinisbahkan kepada Nabi SAW, bisa juga kepada sahabat dan tabiin. Dengan demikian kabar lebih umum dari hadis karena termasuk di dalamnya semua riwayat yang bukan dari Nabi SAW. Asar yang juga berarti nukilan, lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat Nabi SAW, meskipun kadang-kadang dinis­bahkan kepada Nabi SAW. Misalnya, doa yang dinukilkan dari Nabi SAW disebut doa ma’sur. Da­lam lingkup pengertian yang sudah dijelaskan, kata “tradisi” juga dipakai sebagai padanan kata hadis.

Perbedaan pengertian yang diberikan tentang hadis dan tentang pengertian kata yang semaksud dengannya (sunah, kabar, dan asar) disebabkan adanya perbedaan sudut pandang para ulama da­lam melihat Nabi Muhammad SAW dan peri kehidupannya.

1. Ulama hadis melihat Nabi SAW se­bagai pribadi panutan umat manusia.
2. Ulama usul fikih melihatnya sebagai pengatur undang-undang dan pencipta dasar-dasar untuk berijtihad.
3. Fukaha (ahli fikih) melihatnya sebagai pribadi yang seluruh perbuatan dan perkataannya menunjuk pada hukum Islam (syarak).

Perbedaan sudut pandang tersebut membawa pengertian hadis pada perbedaan pengertian, baik yang memberi pene­kanan yang amat terbatas dan tertentu, maupun yang memahaminya dengan cakupan yang lebih luas asal saja itu dinukilkan dari Nabi SAW.

Istilah hadis juga dikenal dalam teologi Islam. Dalam bidang ini kata hadis (jamaknya hawadis) digunakan untuk pengertian suatu wujud yang sebelumnya tidak ada atau sesuatu yang tidak azali (lawannya adalah kadim). Misalnya, dikatakan bahwa eksistensi alam ini hadis. Maksudnya, alam ini pernah tidak ada, lalu menjadi ada karena diciptakan Tuhan.

Jenis Hadis Berdasarkan Sumbernya.

Dilihat dari segi sumbernya, hadis dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu hadis qudsi dan hadis nabawi (Nabi).

1. Hadis qudsi, yang juga disebut de­ngan istilah hadis Ilahi atau hadis Rabbani, adalah suatu hadis yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi SAW, kemudian Nabi SAW menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya ke­pada Allah SWT. Dengan kata lain, hadis qudsi ialah hadis yang maknanya berasal dari Allah SWT, sedangkan lafalnya berasal dari Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, hadis qudsi berbeda de­ngan hadis nabawi (Nabi), yaitu hadis yang lafal maupun maknanya berasal dari Nabi Muhammad SAW sendiri.

Hadis qudsi juga berbeda dengan Al-Qur’an. Perbedaannya antara lain:

(1) lafal dan makna Al-Qur’an berasal dari Allah SWT, sedangkan hadis qudsi hanya maknanya yang berasal dari Allah SWT;

(2) Al-Qur’an mengandung mukjizat;

(3) membaca Al-Qur’an termasuk perbuatan ibadah, sedangkan membaca hadis qudsi tidak termasuk ibadah;

(4) Al-Qur’an tidak boleh dibaca atau bahkan disentuh oleh orang-orang yang berhadas, sedangkan hadis qudsi boleh dipegang dan dibaca juga oleh orang-orang yang punya hadas;

(5) periwayatan Al-Qur’an tidak boleh hanya dengan maknanya saja, sedangkan hadis qudsi boleh diriwayatkan hanya dengan maknanya;

(6) Al-Qur’an harus dibaca di waktu salat, sedangkan hadis qudsi tidak harus dan bahkan tidak boleh dibaca di waktu salat;

(7) semua ayat Al-Qur’an disampaikan dengan cara mutawatir, sedangkan tidak semua hadis qudsi diriwayatkan secara mutawdtir, tetapi kata-kata dan maknanya berasal dari Allah SWT.

Hadis qudsi bukan merupakan suatu kelompok tersendiri dalam buku-buku hadis, tetapi merupa­kan beberapa himpunan yang disusun dari al-Kutub as-Sittah (Kitab Enam) dan selainnya. Himpunan yang lebih luas adalah al-Iddfat at-Taniyyah fi al-Ahadis al-Qudsiyyah (Sandaran Kedua dalam Hadis-Hadis Qudsi), yang dibuat oleh Muhammad al-Madani (w. 881 H/1476 M) dan diterbitkan di Hyderabad pada tahun 1905. Kitab ini memuat 858 hadis yang dibagi pada tiga kelompok, yaitu:

(1) yang dimulai dengan kata qala (berkata),

(2) yang dimulai dengan kata yaqulu (dikatakan), dan

(3) yang disusun menurut abjad. Himpunan ini tidak menjelaskan isnad (kesinambungan antara dua rawi hadis) meskipun menyebutkan dari mana setiap hadis yang dimuatnya.

Sebuah himpunan lain yang memuat 101 hadis qudsi adalah Misykat al-Anwar (Pengatur Cahaya) karya Ibnu Arabi, diterbitkan di Aleppo (1927) bersama himpunan yang memuat 40 hadis yang disusun oleh Mullah Ali al-Qari (w. 1605). Him­punan karya Ibnu Arabi tersebut diperinci ke da­lam tiga bagian, dua bagian masing-masing berisi 40 hadis dan satu bagian berisi 21 hadis. Himpunan ini juga memuat isnad di bagian pertama, terkadang di bagian kedua, dan biasanya juga di bagian ketiga. Sedangkan himpunan karya Ali al-Qari ha­nya menyebut sahabat yang dikenal mendengar ha­dis dari Nabi SAW. Sebuah himpunan hadis qudsi lainnya yang tidak diterbitkan adalah karya Mu­hammad bin Tajuddin al-Munawi (w. 1621).

Ada ulama yang menjelaskan bahwa hadis qudsi ialah segala hadis yang berpautan dengan zat Allah SWT dan sifat-sifatnya. Contoh hadis qudsi ada­lah sebagai berikut. Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman: Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku dan Aku bersamanya di mana saja dia menyebut (mengingat)-Ku” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Dibandingkan dengan hadis qudsi, hadis nabawi jauh lebih banyak jumlahnya. Hadis nabawi juga memiliki kedudukan yang penting dalam Islam meskipun nilainya tidak setinggi hadis qudsi

Periode Perkembangan Hadis.

Sebagai sumber kedua ajaran Islam, hadis telah melewati proses sejarah yang sangat panjang. Oleh para ahli di­katakan bahwa sampai masa sekarang, hadis telah melewati sedikitnya tujuh masa atau periode perkembangan.

Periode Pertama.

Periode pertama ialah masa wahyu dan pembentukan hukum serta dasar-dasarnya (Masa Kerasulan, dari 13 Sebelum Hijriah-11 H). Pada masa ini, Nabi SAW hidup di tengah-tengah masyarakat umumnya dan di tengah-tengah para sahabat pada khususnya, baik sewaktu ia tinggal di Mekah maupun setelah hijrah ke Madinah. Seperti anggota masyarakat pada umumnya, Nabi SAW pun bergaul dan berbicara dengan orang lain dan para sahabatnya di rumah, di masjid, di pasar, di jalan, dan dalam keadaan musafir ataupun tidak. Para sahabatnya pun dengan bebas mengunjungi dan berbicara dengannya kapan dan di mana saja, kecuali pada waktu dan situasi tertentu seperti yang diajarkan oleh Al-Qur’an. Misalnya, larangan menemui Nabi SAW pada saat Nabi SAW sedang beristirahat. Kemudahan untuk melihat dan berjumpa dengan Nabi SAW membuat seluruh ucapan-ucapannya, tingkah laku serta perbuatannya, dan sikap-sikapnya dengan mudah pula menjadi tumpuan perhatian dan pengamatan para sahabat. Semua segi dari sosok Nabi SAW mereka jadikan sebagai teladan kehidupan. Pada sisi lain, Nabi SAW yang kalau berbicara perlahan, jelas, dan kalau perlu mengulangi ucapannya itu, memiliki kemampuan menggunakan dialek-dialek mitra bicaranya atau orang-orang yang dihadapinya. Ide-ide dan ucapannya seringkali dirasakan oleh mitra dialognya sebagai sesuatu yang sangat memukau. Nabi SAW di mata sahabatnya dengan sangat sempurna telah tampil sebagai idola. Di masa ini, Nabi SAW memerintahkan untuk menulis setiap wahyu yang turun. Di masa ini juga terdapat larangan me­nulis hadis. Tetapi dengan berbagai alasan, sebagian sahabat berinisiatif menulisnya di samping wahyu Al-Qur’an. Larangan tersebut bukan karena dikuatirkan akan bercampur-baur dengan Al-Qur’an, akan tetapi semata-mata supaya semua potensi ditujukan dan diarahkan pada Al-Qur’an. Walaupun demikian, perhatian penuh sahabat untuk tidak hanya mencatat Al-Qur’an tetap tumbuh dan terpelihara. Sahabat Anas bin Malik misalnya mengatakan: “Ketika kami berada di sisi Nabi, kami simak hadisnya, dan ketika kami bubar, kami mendiskusikan hadis tersebut hingga kami menghapal-nya.”

Di masa ini, dapat disebutkan beberapa cara sahabat dalam menerima hadis.

Pertama, hadis diterima secara langsung, yaitu:

(1) melalui majelis pengajian Nabi SAW yang diadakan pada waktu-waktu tertentu;

(2) adanya perilaku umat yang di-saksikan oleh Nabi SAW, yang menghendaki penjelasan atau jawaban langsung dari Nabi SAW. Contoh dalam hal ini tergambar dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, yang sanad (kesinambungan antara dua rawi hadis)-nya berujung pada Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW memergoki seorang penjual makanan, yang karena tampaknya mencurigakan, Nabi SAW lalu bertanya kepadanya tentang bagaimana cara ia menjual dagangannya itu. Lalu orang itu pun menjelaskan kepada Nabi SAW. Kemudian Nabi SAW meminta orang ter­sebut agar memasukkan tangannya ke dalam barang dagangannya itu. Permintaan Nabi SAW dipenuhinya, tetapi kemudian terlihat oleh Nabi SAW tangannya basah setelah ia menarik benda dagang­annya. Artinya, bagian atas barang dagangannya itu kering, sedangkan bagian bawahnya basah. Menyaksikan cara berjualan yang tidak jujur ini, bersabdalah Nabi SAW: “Tidak termasuk golongan kami orang yang menipu”;

(3) pertanyaan yang diajukan oleh sahabat atau atas permintaan penjelasan dari sahabat kepada Nabi SAW. Contoh dalam hal ini ialah hadis riwayat Bukhari dari Uqbah bin Haris. Seorang wanita menerangkan kepada Uq­bah bahwa ia telah menyusui Uqbah dan istrinya di waktu keduanya masih kecil. Setelah mendengar hal itu dan karena ia tinggal di Mekah, Uqbah segera berangkat ke Madinah untuk mcnemui dan menceritakan keterangan wanita tersebut kepada Nabi SAW. Uqbah menginginkan penjelasan ten-tang hukum seorang laki-laki, yang karena tidak tahu, menikahi seorang wanita sepersusuan. Ketika itu lahirlah hadis Nabi SAW dengan sabdanya: “Bagaimana lagi, padahal telah diterangkan orang.” Serta merta setelah itu Uqbah menceraikan istri­nya, kemudian istrinya pun menikah lagi dengan orang lain;

(4) adanya peristiwa yang langsung dialami oleh Nabi SAW dan sahabat menyaksikan reaksi Nabi SAW terhadap peristiwa tersebut. Contoh dalam hal ini ialah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Khalid bin Walid makan dab (sejenis biawak) yang dihidangkan orang kepada Nabi SAW, padahal Nabi SAW sendiri enggan memakannya. Maka Khalid bertanya: “Apakah kita diharamkan memakan dab, ya Ra­sulullah?” Nabi SAW menjawab: “Tidak, hanya binatang ini tidak ada di negeri saya, karena itu saya tidak memakannya. Makanlah, sesungguhnya ia itu halal.”

Kedua, hadis diterima secara tidak langsung.

Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor.

(1) Kesibukan yang dialami sahabat. Hal ini tercermin, mi­salnya, pada kesepakatan antara Umar bin Khattab dan Ibnu Zaid, tetangganya, untuk saling bergantian hadir dalam majelis pengajian Nabi SAW bila salah seorang dari mereka terpaksa berhalangan hadir.

(2) Tempat tinggal sahabat yang jauh. Dalam hal ini mereka menerima hadis dari tangan/orang kedua sesudah Nabi SAW.

(3) Perasaan malu untuk bertanya langsung kepada Nabi SAW. Con­toh dalam hal ini adalah riwayat Bukhari dan Mus­lim dari Aisyah binti Abu Bakar. Seorang wanita datang kepada Nabi SAW untuk bertanya tentang bagaimana semestinya melakukan mandi untuk membersihkan diri dari haid. Nabi SAW men­jawab: “Ambillah sepotong kain perca (bekas potongan) yang sudah dikesturikan, lalu berwudulah dengannya.” Jawaban Nabi SAW tersebut tidak segera dipahami oleh wanita itu, sehingga ia ber­tanya lagi: “Bagaimana saya berwudu dengannya?” Nabi SAW tetap dengan jawaban semula, yang te­tap saja tidak dipahami oleh wanita tersebut. Nabi SAW pun meminta Aisyah, istrinya, menjelaskan hal tersebut secara terperinci dan Aisyah menerangkannya untuk wanita tersebut. Contoh ini bisa pula diterapkan pada faktor berikut ini.

(4) Nabi SAW sendiri yang menghendaki adanya perantara.

Dengan demikian, sejak periode ini terdapat perbedaan tingkat cara penerimaan hadis di kalangan sahabat. Selain sebab-sebab yang telah di­sebutkan, masih ada faktor lain, yaitu tingkat kemampuan, termasuk tingkat kecerdasan di antara mereka. Hal ini telah ikut menentukan kualitas pe­nerimaan dan juga penyampaian hadis.

Periode ini menunjukkan beberapa ciri tertentu, antara lain:

(1) keaktifan para sahabat dalam me­nerima hadis dan menyalinnya pada catatan-catatan mereka sendiri yang disebut sahifah, yaitu tulisan pada pelepah kurma, kulit kayu, dan tulang-tulang hewan. Tetapi karena di masa ini terdapat larangan menulis hadis, maka para sahabat dalam menerima hadis berpegang pada kekuatan hapalan mereka. Selain itu hal ini juga disebabkan di masa ini sahabat Nabi SAW yang bisa menulis sangat sedikit;

(2) hadis diterima dan disampaikan dengan mengandalkan kekuatan hapalan.

Para sahabat yang banyak menerima hadis di masa ini ada beberapa kelompok.

Pertama, mereka yang mula-mula masuk Islam yang dinamai as-sab-qun al-awwalun. Misalnya, para al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah pertama) dan Abdullah bin Mas’ud.

Kedua, mereka yang selalu berada di samping Nabi SAW dan bersungguh-sungguh menghapal hadisnya, seperti Abu Hurairah, atau yang mencatatnya, seperti Abdullah bin Amr bin As.

Ketiga, mereka yang berusia panjang, seperti Anas bin Malik dan Abdullah bin Abbas.

Keempat, mereka yang secara pribadi erat hubungannya de­ngan Nabi SAW, yaitu para istri Nabi SAW, seperti Aisyah dan Ummu Salamah.

Adanya larangan menulis hadis di masa ini oleh para ulama dipahami sebagai sesuatu yang bersifat umum. Tetapi Nabi SAW tetap membolehkan adanya penulisan hadis. Kebolehan ini bersifat sangat khusus, yaitu hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak dikuatirkan akan mencampurbaurkan antara catatan-catatan wahyu Al-Qur’an dan hadis. Larangan penulisan hadis pun merupakan larang­an pembukuan hadis secara resmi. Sesungguhnya, semuanya itu bisa dipahami berhubung pada masa itu wahyu Al-Qur’an dalam proses turun secara bertahap dan dengan bimbingan wahyu Nabi SAW membangun serta membentuk masyarakat. Karena itu, masa ini disebut ‘Asral-Wahy wa Takwin (Masa Turunnya Wahyu dan Pembentukan Masyarakat). Di antara sahabat yang menulis hadis adalah Ab­dullah bin Amr bin As (7 Sebelum Hijriah-65 H) dengan naskahnya yang berjudul as-Sahifah as-Sa-diqah dan Jabir bin Abdullah al-Ansari (16-73 H) dengan naskahnya yang berjudul Sahlfah Jabir.

periode Kedua.

Periode ini disebut Zaman at-Tasabbut wa al-Iqlal min ar-Riwayah (Periode Membatasi Hadis dan Menyedikitkan Riwayat), yaitu pada masa khalifah empat (Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib). Di antara persoalan yang sa­ngat menonjol dan menyita banyak perhatian para sahabat di masa ini, di samping usaha penyebarluasan Islam, adalah soal ketatanegaraan dan soal kepemimpinan umat. Tanpa mengabaikan usaha-usaha mendasar yang telah dilakukan oleh keempat khalifah tersebut, situasi politik dengan dampak tumbuhnya perpecahan di kalangan intern kepe­mimpinan umat telah melahirkan bermacam-macam fitnah dan berbagai intrik. Hadis pun tidak luput dari dampak tersebut. Dapat dimengerti kalau Khalifah Abu Bakar dan kemudian penggantinya, Umar bin Khattab, menyerukan kepada umat untuk bersikap hati-hati dan cermat dalam meriwayatkan hadis serta meminta kepada para sahabat untuk memeriksa dengan teliti riwayat hadis yang mereka terima.

Ada riwayat bahwa Abu Bakar sendiri telah bersedia membakar sahifah-sahifah miliknya. Tindakan Abu Bakar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) mungkin Abu Bakar merasa bahwa catatan-catatan hadisnya tersebut tidak persis de­ngan apa yang telah disampaikan oleh Nabi SAW dan

(2) mungkin, menurut Abu Bakar sendiri, apa yang dibakarnya itu sudah sama dengan yang ter­dapat pada sahabat lainnya.

Terdapat riwayat lain bahwa di depan Abu Salamah, Abu Hurairah mengaku bahwa seandainya ia meriwayatkan hadis di masa Umar menjadi khalifah, seperti yang ia lakukan pada masa itu (setelah Umar wafat), niscaya Umar akan mencambuknya. Riwayat lain mengatakan, Umar menentang keras riwayat hadis atau mereka yang datang membawa kabar (hadis) hukum tanpa diperkuat oleh seorang saksi. Ia juga menekankan para sahabat supaya menyedikitkan riwayat.

Pada beberapa sumber disebutkan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak menerima hadis jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seseorang yang lain. Sementara terdapat pula sumber lainnya yang menyatakan kedua sahabat itu menerima riwayat orang-perorang (tanpa saksi). Sumber yang per­tama menunjukkan betapa ketat kedua sahabat dan juga sahabat lainnya dalam menerima hadis. Sedangkan pada sumber kedua bisa dijelaskan bahwa saksi tidak merupakan syarat mutlak; saksi hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima suatu riwayat. Dengan penjelasan serupa dapat dipahami adanya sumber yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Talib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah.

Periwayatan hadis di masa kekhalifahan Usman bin Affan dan Ali bin Abi Talib meneruskan ciri dari dua khalifah pendahulunya. Tetapi, perkembangan masyarakat pada waktu itu sudah berbeda dengan waktu sebelumnya. Banyak sahabat yang sudah berpencar ke daerah-daerah baru. Perkembangan dan perubahan tersebut membawa pengaruh. Misalnya, bila di zaman Umar larangan periwayatan hadis dapat dilakukan dengan tegas, maka di zaman Usman dan Ali larangan itu tidak setegas zaman sebelumnya. Para sahabat sebagai nara-sumber hadis tidak lagi hanya bermukim di Madinah sebagai akibat kebijaksanaan yang diterapkan oleh Umar yang melarang para sahabat pindah ke luar kota tersebut, tetapi mereka terpencar-pencar ke beberapa daerah baru. Akibatnya, penyebaran dan pengembangan riwayat secara lebih jauh mulai tak terhindarkan.

Periode Ketiga.

DisebutZaman Intisyar ar-Riwayah Ha al-Amsar (Periode Penyebaran Riwayat ke Kota-Kota), berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar. Penaklukan yang dilakukan oleh tentara Islam atas wilayah Syam (Suriah) dan Irak (17 H), Mesir (20 H), Persia (21 H), Sa­markand (56 H), dan Spanyol (93 H) mengharuskan para sahabat berpindah ke tempat-tempat baru tersebut untuk keperluan mengajarkan agama Islam bagi penduduk setempat. Pada perkembangan selanjutnya, seorang sahabat yang mendengar suatu riwayat (hadis) yang belum pernah didengarnya merasa perlu berkunjung ke kota tempat tinggal sahabat yang disebutkan meriwayatkan hadis tersebut. Berita kedatangan seorang sahabat di suatu daerah mengundang perhatian tabiin untuk mendatanginya dan berkerumun di sekitar sahabat tersebut untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran daripadanya, termasuk pengajaran tentang hadis. Dalam riwayat Bukhari, Ahmad, at-Tabari, dan al-Baihaki disebutkan bahwa Jabir pernah pergi ke Syam (Suriah) dengan maksud menanyakan sebuah hadis pada seorang sahabat yang tinggal di sana. Hal yang sama telah dilakukan pula oleh Abu Ayyub al-Ansari yang melawat ke Mesir untuk menemui Uqbah bin Amr untuk menanyakan sebuah hadis.

Dengan demikian periode ini ditandai oleh aktifnya generasi tabiin mencari dan menyerap hadis-hadis dari generasi sahabat yang masih hidup. Pada periode ini, terkenallah sahabat-sahabat yang dijuluki sebagai “bendaharawan” hadis, yaitu me­reka yang meriwayatkan lebih dari seribu hadis. Di antara mereka adalah:

(1) Abu Hurairah, meriwa­yatkan 5.374 hadis;

(2) Abdullah bin Umar bin Khattab, meriwayatkan 2.630 hadis;

(3) Anas bin Malik, meriwayatkan 2.266 hadis;

(4) Aisyah, meri­wayatkan 1.210 hadis;

(5) Abdullah bin Abbas, me­riwayatkan 1.660 hadis;

(6) Jabir bin Abdullah, meriwayatkan 1.540 hadis; dan

(7) Abu Sa’id al-Khudri, meriwayatkan 1.170 hadis.

Di masa ini terdapat pula sahabat yang menyedikitkan riwayat karena takut terjerumus dalam kedustaan atau takut karena usia lanjut sehingga banyak hadis yang terlupakan. Az-Zubair dan Zaid bin Arqam adalah contoh dari sekian sahabat yang mengambil sikap seperti ini.

Adapun di antara tabiin yang tercatat sebagai tokoh-tokoh hadis pada periode ini adalah

Sa’id dan Urwah di Madinah,

Ikrimah dan Ata bin Abi Rabah di Mekah,

asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakha’i di Kufah,

Abu Qatadah dan

Muhammad bin Sirin di Basra,

Umar bin Abdul Aziz dan

Qabisah bin Zuaib di Syam (Suriah),

Abu Khair Mar-sad al-Yazini dan

Yazid bin Habib di Mesir, dan

Tawus bin Kaisan al-Yamani serta

Wahab bin Mu-nabbih di Yaman.

Kota-kota dan wilayah-wilayah yang disebutkan di atas juga sekaligus menjadi pusat hadis.

Perkembangan tersebut, di samping pengaruh politik serta fitnah dan intrik-intrik lain dari masa-masa sebelumnya, memberi peluang bagi berkembangnya pemalsuan hadis. Pada periode ini riwayat-riwayat yang palsu semakin bertambah dan beragam coraknya. Menurut versi pengarang kitab Nahj al-Baldgah (Metode Balagah), Ibnu Abi al-Hadid (seorang ulama Syiah), pemalsuan hadis mula-mula dilakukan oleh golongan Syiah sendiri dalam bentuk pemujaan terhadap keutamaan pribadi-pribadi. Tragisnya, perbuatan mereka ini d-tandingi oleh golongan Suni. Karena di masa ini Irak merupakan pusat orang-orang Syiah, maka kuat dugaan bahwa daerah tersebut menjadi asal mula munculnya hadis-hadis palsu.

Periode Keempat.

Disebut ‘Asr al-Kltdbat wa at-Tadwin (Periode Penulisan dan Kodifikasi Resmi), berlangsung dari masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/717-720 M) sampai akhir abad ke-2 H. Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal jujur dan mempunyai minat pada ilmu pengetahuan mengambil langkah dan kebijaksana­an terhadap hadis yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh semua khalifah pendahulunya. Khalifah ini menangkap kenyataan bahwa para penghapal hadis semakin berkurang jumlahnya karena meninggal. Tumbuh rasa khawatir dalam diri Khalifah, apabila hadis tidak segera dikumpulkan dan dibukukan, maka berangsur-angsur akan hilang. Rasa khawatir itulah yang menyebabkan Kha­lifah memerintahkan gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm (w. 117 H), supaya membukukan hadis Nabi SAW yang terdapat pada penghapal wanita terkenal dan seorang ahli fikih murid Aisyah RA, Amrah binti Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah bin Ades, serta hadis-hadis yang ada pada Qasim bin Mu­hammad bin Abu Bakar as-Siddiq, seorang pemuka tabiin dan salah seorang dari tujuh fukaha (ahli fikih) Madinah.

Umar bin Abdul Aziz juga mengirim surat ke­pada semua gubernur dalam wilayah kekuasaannya untuk mengambil langkah serupa pada penghapal dan ulama hadis di tempat mereka masing-masing. Kebijaksanaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini oleh sejarah dicatat sebagai kodifikasi hadis yang pertama secara resmi. Pengertian “resmi” di sini ialah kebijaksanaan itu dilaksanakan atas perintah penguasa yang sah dan disebarluaskan ke seluruh jajaran kekuasaannya. Abu Bakar Muhammad bin Syihab az-Zuhri (w. 124 H) tercatat sebagai ulama besar pertama yang membukukan hadis-hadis. Selanjutnya, kodifikasi hadis dilakukan oleh para ulama atas anjuran dan dukungan para khalifah, seperti Khalifah Abu Abbas as-Saffah dan khalifah-khalifah keturunannya dari Dinasti Abbasiyah.

Periode pendewanan hadis yang disponsori oleh khalifah-khalifah Abbasiyah ini melahirkan ulama-ulama hadis, seperti Ibnu Juraij (w. 150 H) di Mekah, Abu Ishaq (w. 151 H) dan Imam Malik (w. 179 H) di Madinah, ar-Rabi bin Sabih (w. 160 H) dan Hammad bin Salamah (w. 176 H) di Basra, Sufyan as-Sauri (w. 116 H) di Kufah, dan Abdur­rahman al-Auza’i (w. 156 H) di Syam (Suriah). Oleh karena mereka hidup dalam generasi yang sama, yaitu pada abad ke-2 H, sukar untuk ditetapkan siapa di antara mereka yang lebih dahulu muncul. Namun yang jelas adalah mereka itu sama-sama berguru kepada Ibn Hazm dan Ibnu Syihab az-Zuhri.

Di antara ciri-ciri hadis yang didewankan pada abad ke-2 H ini adalah mereka tidak menghiraukan atau belum sempat menyeleksi apakah yang me­reka dewankan itu hadis Nabi SAW semata-mata ataukah termasuk juga di dalamnya fatwa-fatwa sahabat dan tabiin. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka belum membuat pengelompokan kandungan nas-nas (teks) hadis menurut kelompok-kelompok-nya. Dengan demikian karya ulama abad ini masih bercampur-aduk antara hadis-hadis Rasulullah SAW dan fatwa-fatwa sahabat serta tabiin. Dengan demikian, dalam kitab-kitab hadis karya ulama-ulama tersebut belum dipisahkan antara hadis-hadis yang marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi SAW), mauquf (yang disandarkan kepada sahabat), dan maqtu’ (yang disandarkan kepada tabiin) serta an­tara hadis sahih, hasan, dan daif (lemah).

Dalam periode keempat ini sejumlah hadis berhasil dihimpun dalam buku-buku yang dinamakan al-Jami’, al-Musannaf, al-Musnad, dan lain-lain. Misalnya, al-Musnad susunan Imam Syafi’i, al-Musannaf susunan al-Auza’i, dan al-Muwatta’ su­sunan Imam Malik yang disusun atas permintaan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur (144 H).

Dalam periode ini pemalsuan hadis juga semakin meluas. Yang agak menonjol adalah pemalsuan hadis dalam rangka kepentingan politik, di samping pemalsuan yang dilakukan oleh golongan zindik dan tukang-tukang kisah untuk menarik minat para pendengarnya. Ada kemungkinan, kisah-kisah itu banyak yang disandarkan pada hadis-hadis maudu’ (lemah). Kenyataan tersebut mendorong lahirnya ulama-ulama di bidang hadis yang memusatkan perhatiannya dalam persoalan rawijarh (penolakan terhadap rawi), danta’dil (penerimaan terhadap rawi). Walaupun demikian, kegiatan penulisan dan kodifikasi hadis tetap berjalan dan semakin berkembang.

Periode Kelima.

Disebut ‘Asr at-Tajrid wa at-Tashih wa at-Tanqih (Periode Pemurnian, Penyehatan, dan Penyempurnaan), dari awal abad ke-3 sampai akhir abad ke-3 H. Periode ini menanggung dan mencarikan pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan hadis yang muncul dan belum diselesaikan pada periode sebelumnya. Pemisahan antara hadis Nabi SAW dan fatwa sahabat yang mulai terasa keperluannya dan adanya pemalsuan-pemalsuan hadis yang telah menarik perhatian para ulama pada masa sebelumnya pada periode ini semakin terasa mendesak untuk ditangani. Para ulama pun di masa ini menghimpun dan membuku­kan hadis-hadis Nabi SAW ke dalam buku hadis dan memisahkannya dari fatwa-fatwa sahabat. Ke-giatan-kegiatan lainnya di masa ini antara lain:

(1) perlawatan ke daerah-daerah yang semakin jauh guna menghimpun hadis-hadis dari para rawi semakin meningkat;

(2) membuat klasifikasi hadis pada yang marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi SAW), yang mauquf (yang disandarkan kepada sa­habat), dan yang maqtu’ (yang disandarkan kepada tabiin); dan

(3) menghimpun kritik-kritik yang diarahkan baik kepada rawi (yang meriwayatkan) maupun matan (teks) hadis, dan memberikan jawaban atas kritik tersebut.

Sebagai tindak lanjut dari usaha pemisahan antara hadis dan fatwa sahabat, di masa ini lahirlah buku-buku hadis dalam corak lebih baru yang dinamakan kitab sahih , kitabSunan, dan kitab Musnad. Kitab Sahih adalah kitab yang memuat hadis-hadis sahih saja. Kitab Sunan adalah kitab yang memuat seluruh hadis, kecuali hadis yang sangat daif dan munkar (sangat lemah). Sedangkan Musnad adalah kitab yang memuat semua hadis, baik sahih, hasan, maupun daif.

Di masa ini bangkit imam hadis yang besar, Ishaq bin Rahawaih, yang merintis usaha memisahkan hadis-hadis yang sahih dari yang tidak. Usaha ini dilanjutkan dengan sangat baik oleh Imam Bukhari dan muridnya, Imam Muslim, dengan menyusun kitab hadisnya, yang masing-masing dinamai kitab Sahih. Imam-imam hadis terkenal lainnya, seperti Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, mulai pula menyusun kitab-kitab Su­nan mereka. Begitu pula Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) dengan kitab Musnad-nya. Penyusun kitab Musnad lainnya antara lain Musa al-Abbasi, Musaddad al-Basri, Asad bin Musa, dan Nu’aim bin Hamad al-Khaza’i. Kitab-kitab itu oleh pengarangnya juga dimaksudkan sebagai jawaban atas usaha pemalsuan hadis dari pihak-pihak yang telah disebutkan dan dari kalangan mazhab-mazhab fikih, aliran-aliran kalam/teologi, dan tasawuf yang fanatik dalam membela golongannya.

Periode Keenam.

Disebut ‘Asr at-Tahzib wa at-Tartib wa al-Istidrak wa al-Jam’ (Periode Pemeliharaan, Penertiban, Penambahan, dan Penghimpunan), mulai abad ke-4 H sampai jatuhnya kota Baghdad (656 H/1258 M). Ulama-ulama hadis telah menetapkan bahwa para ahli yang hidup sebelum abad ke-4 H atau periode ini disebut mutakadimin (pendahulu), sedangkan sesudahnya disebut muta’akhkhirin. Ulama hadis mutakadimin pada umumnya melakukan kegiatan mereka secara man-diri, dalam arti mengumpulkan hadis dan memeriksanya sendiri dengan menemui para penghapalnya yang tersebar di banyak pelosok negeri. Sedangkan kegiatan ulama hadis muta’akhkhirin pada umum­nya bersandar pada karya-karya ulama mutaka­dimin, dalam arti hadis yang mereka kumpulkan merupakan petikan atau nukilan dari kitab-kitab mutakadimin.

Pada periode ini tumbuh asumsi untuk merasa cukup dengan hadis-hadis yang telah dihimpun oleh ulama mutakadimin. Oleh karena itu dirasakan tidak perlu lagi melakukan lawatan ke ber-bagai negeri untuk mencari hadis. Semangat di masa ini adalah semangat memelihara apa yang telah dikerjakan oleh para pendahulu mereka.

Para ulama hadis dalam periode ini saling berlomba untuk menghapal sebanyak-banyaknya hadis yang telah terdewan, sehingga tidak mustahil sebagian dari mereka sanggup menghapal beratus-ratus ribu hadis. Sejak periode ini timbul bermacam-macam gelar keahlian dalam ilmu hadis, seperti al-Hakim dan al-Hafiz.

Selain itu, ulama dalam periode keenam ini berusaha untuk memperbaiki susunan kitab, mengumpulkan yang masih berserakan, dan memudahkan jalan-jalan pengambilan hadis. Pengumpulan ha­dis-hadis untuk disusun dalam bagian-bagian yang lebih sistematis, misalnya menghimpun dan membukukan hadis-hadis tentang hukum, lebih digiatkan. Di masa ini pula bermunculan kitab-kitab syarh atau syarah, yaitu kitab yang mengomentari kitab hadis tertentu, yang lebih banyak dibuat dari masa sebelumnya. Kegiatan lain di masa ini adalah istikhraj, yaitu mengambil suatu hadis dari ulama hadis tertentu lalu meriwayatkannya dengan sanad sendiri yang lain dari sanad ulama hadis tersebut. Kitab hadis yang dibuat dengan metode ini disebut mustakhrij. Selain itu, di masa ini lahir kitab hadis yang disebut kitab Atraf, yang menyebut hanya sebagian-sebagian dari matan atau teks hadis, kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad dari kitab hadis yang dikutip maupun dari kitab lain; kitab Mustadrak, yang menghimpun hadis-hadis yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya saja; dan kitab Jami’, yang menghimpun hadis-hadis yang telah termuat dalam kitab-kitab yang telah ada.

Ulama-ulama pada periode ini memberikan perhatian besar terhadap kegiatan memperbaiki susunan kitab hadis dan mengumpulkan hadis-ha­dis yang sudah terdapat dalam kitab-kitab sebe­lumnya ke dalam sebuah kitab hadis yang lebih besar. Kitab-kitab yang masyhur hasil karya ulamaabad ke-4H antara lain:

(1) al-Mu’jam al-Kabir,

(2) al-Mu’jam al-Ausat,

(3) al-Mu’jam as-Sagir, ketiga-tiganya karya Imam Sulaiman bin Ahmad at-Ta-barani (w. 360 H),

(4) Sunan ad-Ddruqutni karya Imam Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad Da-ruqutni (306-385 H),

(5) Sahlh Abi ‘Auwanah karya Abu Auwanah Ya’qub bin Ishaq Ibrahim al-As-farayini (w. 354 H), dan

(6) Sahih Ibn Khuzaimah karya Ibnu Khuzaimah Muhammad bin Ishaq (w. 316 H).

Adapun kitab-kitab hadis yang lahir pada abad ke-5 H hingga akhir periode keenam ini an­tara lain:

(1) as-Sunan al-Kubrd karya Abu Bakar Ahmad bin Husain Ali al-Baihaki (384-458 H);

(2) Muntaqa al-Akhbdr karya Majdudin al-Harrani (w. 652 H);

(3) Nail al-Autdr, sebagai syarah kitab Muntaqa al-Akhbar, karya Muhammad bin Ali asy-Syaukani (1172-1250 H);

(4) at-Targib wa at-Tarhlb karya Imam Zakiyu’ddin Abdu’l-’Adim al-Munziri (w. 656 H);

(5) Dalil al-Falihin karya Muhammad bin Allan as-Siddiqi (w. 1057 H), sebagai syarah Kitab Riydd as-Sdlihin karya Imam Muhyiddin Abi Zakariya an-Nawawi (w. 676 H/1277 M).

Periode Ketujuh.

Disebut ‘Ahd asy-Syarh wa al-Jam’ wa at-Takhrij wa al-Bahs (Periode Pensyarahan, Perhimpunan, Pe-takhrijan atau Pengeluaran Riwayat, dan Pembahasan), mulai jatuhnya kota Baghdad sampai sekarang.

Periode ketujuh masih meneruskan beberapa kegiatan dari periode sebelumnya, di samping kegiatan-kegiatan lainnya. Penghancuran Baghdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh pasukan Hulagu Khan (656 H/1258 M) telah menggeser kegiatan di bidang hadis ke Mesir dan India. Banyak kitab hadis yang beredar di tengah-tengah masyarakat Islam berasal dari usaha penerbitan yang dilakukan oleh ulama-ulama India. Contoh dalam hal ini adalah penerbitan kitab ‘Uliim al-Hadis (Ilmu-ilmu Hadis) karya al-Hakim.

Cara penerimaan dan penyampaian hadis di masa ini juga mengalami pergeseran. Cara yang digunakan kadang-kadang berupa pemberian izin oleh seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis dari guru tersebut dan kadang-kadang berupa pemberian Catatan hadis dari seorang guru kepada seseorang yang ada di dekatnya atau yang jauh, baik catatan itu dibuat sendiri oleh guru ter­sebut atau menyuruh orang lain. Cara yang pertama dikenal dengan nama ijazah, sedang yang kedua dinamai mukatabah (penulisan).

Pada periode ini tidak banyak lagi dapat dijumpai ulama-ulama hadis yang mampu menyampaikan periwayatan hadis beserta sanadnya secara hapalan yang sempurna. Kegiatan yang umum pada masa ini adalah mempelajari kitab-kitab hadis yang telah ada, mengembangkannya, dan membuat pembahasan-pembahasannya atau juga membuat ringkasan-ringkasan terhadap kitab-kitab hadis yang telah ada. Pada masa yang lebih kemudian dalam periode ini, kegiatan-kegiatan di bidang ha­dis juga berpindah ke Arab Saudi.

Kedudukan Hadis.

Kedudukan hadis, terutama sebagai sumber hukum Islam, sejak zaman yang masih dini sudah dipersoalkan. Imam Syafi’i, yang digelari Nasir al-Hadis (Pembela Hadis), pernah menyebutkan adanya pendapat yang menolak hadis. Dengan kata lain, paling sedikit, ada pen­dapat yang menerima hadis yang hanya semakna dengan Al-Qur’an, yaitu hadis mutawdtir. Sedangkan selain hadis-hadis mutawatir mereka enggan mengamalkannya atau bahkan menolak dengan dalih bahwa Al-Qur’an sudah cukup sebagai sum­ber yang bersifat universal dan umum. Karena itu, pernyataan bahwa umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang telah sepakat menerima hadis se­bagai salah satu sumber hukum Islam sesudah Al-Qur’an, harus diberi catatan karena di kalangan ulama Islam juga ada yang tidak sependirian de­ngan kesepakatan tersebut. Mereka yang tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut, yang biasanya disebut ulama Ahlur Ra’yi (penganut pendapat), tidak menerima suatu hadis sebelum mengemuk-kan keterangan-keterangan Al-Qur’an yang mu-kam (tidak memerlukan lagi penjelasan apa-apa). Tentu saja pendirian serupa ini tidak dapat dinilai sebagai tidak berharga karena ia lahir dari ulama-ulama kalangan Islam sendiri, bukan di luarnya.

Ulama-ulama yang menempatkan kedudukan hadis pada tingkat kedua setelah Al-Qur’an men-dasarkan pendiriannya atas dalil-dalil Al-Qur’an yang artinya: “…Apa yang diberikan Rasul kepada-mu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS.59:7), “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat” (QS.3:132), “…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan dan ditimpa azab yang pedih” (QS.24:63), dan “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan(yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang-siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS.33:36).

Selain itu, para ulama juga mengemukakan alasan-alasan berikut.

(1) Al-Qur’an diterima dengan jalan yang yakin atau maqtu’ bih, sedangkan hadis dengan jalan zan (syak atau curiga) atau maznun bih.

(2) Hadis adakalanya menerangkan yang diijmalkan (diringkas) oleh Al-Qur’an, mensyarah Al-Quran, dan adakalanya mendatangkan apa yang belum didatangkan oleh Al-Qur’an.

(3) Hadis sendiri menunjuk pada fungsinya yang demikian itu.

Dalam hal ini biasanya dikemukakan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmizi mengenai Mu’az bin Jabal yang diutus oleh Nabi SAW ke Yaman. Nabi SAW bertanya kepada Mu’az dengan apa ia memutuskan perkara. Oleh Mu’az dijawab: “Dengan kitab Allah.” Jika dalam Al-Qur’an hukum tersebut tidak ditemukan, maka oleh Mu’az dijawab: “Dengan sunah Rasul.” Di samping itu, argumen-argumen logika dan pikiran digunakan pula oleh para ulama untuk menetapkan kewajiban menaati hadis Nabi SAW serta mendudukkannya pada tingkat kedua sebagai sumber hukum sesudah Al-Qur’an

Ensiklopedi Hadist Part 2

Unsur-Unsur Hadis.

Suatu hadis mengandung tiga unsur, yakni rawi (yang meriwayatkan), sanad (sandaran), dan matan (teks).

Rawi (jamaknya ruwai) ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan hadis dalam suatu kitab yang pernah didengarnya atau diterima dari seseorang (gurunya). Menyampaikan hadis disebut merawikan hadis.

Seringkali sebuah hadis diriwayatkan oleh bukan hanya satu rawi, akan tetapi oleh banyak rawi. Untuk itu biasanya para penyusun kitab hadis tidak menyebutkan nama-nama rawi seluruhnya, melainkan hanya merumuskan dengan bilangan rawi pada akhir matan hadis dengan ungkapan akhrajahu ataurawdhu… (diriwayatkan). Misalnya:

(I) Akhrajahu as-sab’ah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh tujuh orang rawi, yaitu Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah;

(2) Akhrajahu as-sittah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh enam rawi, yaitu tujuh orang di atas dikurangi Ahmad;

(3) Akhrajahu al-khamsah, maksudnya hadis ter­sebut diriwayatkan oleh lima orang rawi, yakni tujuh orang di atas dikurangi Bukhari dan Muslim;

(4) Akhrajahu al-arba’ah, maksudnya hadis ter­sebut diriwayatkan oleh empat rawi, yaitu Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah;

(5) Akhrajahu as-salasah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh tiga orang rawi, yakni Abu Dawud, at-Tirmizi, dan an-Nasa’i;

(6) Akhrajahu asy-syaikhan, maksudnya hadis tersebut diri­wayatkan oleh kedua imam hadis, yakni Bukhari dan Muslim. Untuk ini dipakai juga istilah muttafaq ‘alaih;

(7) Akhrajahu al-jama’ah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh rawi yang banyak sekali jumlahnya;

(8 ) Rawahu ashab as-Sunan, maksud­nya hadis tersebut diriwayatkan oleh pemilik kitab-kitab Sunan, yaitu Abu Dawud, at-Tirmizi, dan an-Nasa’i.

Sanad adalah jalan yang menyampaikan kita pada matan hadis atau rentetan para rawi yang menyampaikan matan hadis. Dalam hubungan ini dikenal istilah musnid, musnad, dan isnad. Musnid adalah orang yang menerangkan hadis dengan me­nyebutkan sanadnya. Musnad adalah hadis yang seluruh sanadnya disebutkan sampai kepada Nabi SAW (pengertian ini berbeda dengan kitab Mus­nad). Sedangkan isnad adalah keterangan atau penjelasan mengenai sanad hadis atau keterangan mengenai jalan sandaran suatu hadis.

Selain itu juga terdapat istilah sigat al-isnad atau sigat at-tahammul, yaitu lafal yang terdapat dalam sanad yang digunakan oleh rawi yang menunjukkan tingkat penerimaan dan penyampaian hadis dari rawi tersebut. Ada delapan sigat isnad dan yang disebutkan lebih dulu lebih tinggi tingkatannya dari yang disebut kemudian, yaitu:

(1) as-simd’ min lafz asy-syaikh (mendengar dari lafal syekh), contoh-nya: sami’tu (aku mendengar);

(2) qird’at ‘ala asy-syaikh (membaca tulisan syekh), contohnya: qara’tu ‘ala (aku membaca);

(3) al-ijdzat, contohnya: ajaztu laka Sahih al-Bukhdri (aku bolehkan/izinkan un-tukmu kitab Sahih al-Bukhari);

(4) al-mundwalah, contohnya: “hadis ini saya terima dari si Anu, maka riwayatkanlah atas namaku”;

(5) al-mukdtabah (tu­lisan), contohnya: “si Anu telah menceritakan padaku secara tertulis”; (6) al-i’ldm (pemberitahu-an), contohnya: “Saya telah meriwayatkan hadis ini dari si Anu, maka riwayatkanlah daripadaku”;

(7) al-wasiyat, yakni guru mewasiatkan suatu hadis menjelang ia pergi jauh atau merasa ajalnya sudah dekat; dan

(8 ) al-wijddah, yakni rawi memperoleh hadis yang ditulis oleh seorang guru, tetapi tidak dengan jalan simd’i atau ijdzah, baik semasa atau tidak, baik berjumpa atau tidak. Sigat isnad itu da-lam kitab-kitab hadis biasa disingkat penulisannya.

Adapun matan adalah materi atau teks hadis, berupa ucapan, perbuatan, dan takrir, yang terletak setelah sanad terakhir. Matan dikatakan juga sabda Nabi SAW yang dinyatakan setelah menyebutkan sanad.

Terdapat banyak riwayat yang melukiskan betapa besar minat para sahabat dalam menghadiri majelis (pengajian) Nabi SAW. Hal itu tercermin, misalnya, pada kesepakatan antara Umar bin Khattab dan Ibnu Zaid, tetangganya, untuk saling bergantian hadir dalam majelis Nabi SAW tersebut. Namun, karena terkadang ada faktor yang menyebabkan di antara mereka tidak bisa hadir dan perbedaan tingkat kemampuan mereka dalam menangkap dan memahami ucapan, perbuatan, dan takrir Nabi SAW, para sahabat kemudian menggunakan beragam cara dalam menyampaikan hadis. Karena itu, terdapat beberapa matan hadis, yaitu:

(1) yang lafal atau setiap katanya persis sama dengan lafal pada matan hadis yang lain;

(2) yang antara satu matan hadis dan lainnya hanya terdapat persamaan makna, isi atau tema, sedangkan lafal-nya berbeda; dan

(3) yang antara satu matan hadis dan lainnya saling bertentangan (berbeda), baik lafal maupun maknanya. Keadaan inilah, antara lain, yang menjadi objek penelitian para ahli guna memperoleh hadis yang benar-benar bisa diper-tanggungjawabkan untuk dinisbahkan kepada Nabi SAW.

Pembagian dan Macam-Macam Hadis.

Para ulama hadis meninjau hadis dari dua segi, yaitu segi jumlah rawi dan segi nilai sanad.

Dari segi jumlah rawi, ada dua bentuk pembagian hadis. Bentuk pertama terbagi atas hadis mutawdtir dan ahad. Bentuk kedua terbagi atas mutawdtir, masyhur, dan ahad. Pembagian yang lebih praktis adalah bentuk pertama karena pada dasarnya hadis masyhur tercakup dalam hadis dhad, yang terbagi atas masyhur, ‘aziz, dungarib.

1. Hadis mutawdtir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang pada setiap tingkat sanadnya, yang menurut tradisi mustahil mereka bersepakat untuk berdusta dan karena itu diyakini kebenaran-nya (Mutawatir). Hadis mutawatir betul-betul bersumber dari Nabi SAW. Hadis mutawdtir sama dengan Al-Qur’an dalam hal keotentikannya ka­rena keduanya qat’i al-wurud (sesuatu yang pasti datangnya). Para ulama sepakat bahwa hadis mutawatir wajib diamalkan dalam seluruh aspek, ter-masuk dalam bidang akidah.
2. Adapun hadis dhad adalah hadis yang tidak memenuhi (mencapai) syarat-syarat mutawdtir. Se­dangkan hadis masyhur adalah hadis yang diriwa­yatkan oleh tiga rawi atau lebih, tetapi belum men­capai derajat mutawdtir. Hadis ‘aziz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi pada satu tabaqat-nya, sekalipun setelah itu diriwayatkan pula oleh sejumlah rawi. Hadis garib adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat hanya satu orang rawi, di mana pun sanad itu terjadi.

Para ulama bersepakat bahwa kedudukan hadis mutawdtir adalah sumber hukum kedua sesudah AlQur’an. Tentang kedudukan hadis ahad, menurut Abu Hanifah (Imam Hanafi), kalau rawinya orang-orang adil, dapat dijadikan hujah hanya pada bidang amaliah, bukan pada bidang akidah dan ilmiah. Menurut Imam Malik, hadis ahad dapat digunakan untuk menetapkan hukum-hukum yang tidak dijumpai dalam Al-Qur’an dan harus didahulukan dari kias (tidak pasti). Sedang­kan menurut Imam Syafi’i, hadis dhad berfungsi sebagai hujah apabila rawinya memiliki empat syarat, yakni berakal, ddbit (memiliki ingatan dan hapalan yang sempurna serta mampu menyampaikan hapalan itu kapan saja dikehendaki), mendengar langsung dari Nabi SAW, dan tidak menyalahi pen-dapat para ulama hadis.

Dari segi nilai sanad, hadis ada tiga macam, yaitu sahih, hasan, dan daif. Hadis sahih adalah hadis yang memenuhi persyaratan:

(1) sanadnya bersambung;

(2) diriwayatkan oleh rawi yang adil, memiliki sifat istiqamah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kehormatan diri)-nya, dan ddbit; dan

(3) matannya tidak syazz (tidak mengandung kejanggalan-kejanggalan) serta tidak bcr-’illat (se-bab-sebab yang tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadis).

Hadis yang memiliki syarat-syarat tersebut juga disebut sahih li zatih. Tetapi, bila kurang salah satu syarat tersebut, namun bisa ditutupi dengan sesuatu cara lain, ia dinamakan sahih ligairih.

Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya ber­sambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil, tetapi tidak sempurna dabitnya, serta matannya tidak syazz dan ber’illat. Hadis hasan dengan syarat-syarat demikian juga disebut hasan li zAtih. Tetapi, bila dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal/diketahui, namun ia bukan orang yang terlalu tidak, baik berjumpa atau tidak. Sigat isnad itu dalam kitab-kitab hadis biasa disingkat penulisannya.

Adapun matan adalah materi atau teks hadis, berupa ucapan, perbuatan, dan takrir, yang terletak setelah sanad terakhir. Matan dikatakan juga sabda Nabi SAW yang dinyatakan setelah menyebutkan sanad.

Terdapat banyak riwayat yang melukiskan betapa besar minat para sahabat dalam menghadiri majelis (pengajian) Nabi SAW. Hal itu tercermin, misalnya, pada kesepakatan antara Umar bin Khattab dan Ibnu Zaid, tetangganya, untuk saling bergantian hadir dalam majelis Nabi SAW tersebut. Namun, karena terkadang ada faktor yang menyebabkan di antara mereka tidak bisa hadir dan perbedaan tingkat kemampuan mereka dalam menangkap dan memahami ucapan, perbuatan, dan takrir Nabi SAW, para sahabat kemudian menggunakan beragam cara dalam menyampaikan hadis. Karena itu, terdapat beberapa matan hadis, yaitu:

(1) yang lafal atau setiap katanya persis sama de-ngan lafal pada matan hadis yang lain;

(2) yang antara satu matan hadis dan lainnya hanya terdapat persamaan makna, isi atau tema, sedangkan lafal-nya berbeda; dan

(3) yang antara satu matan hadis dan lainnya saling bertentangan (berbeda), baik lafal maupun maknanya.

Keadaan inilah, antara lain, yang menjadi objek penelitian para ahli guna memperoleh hadis yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan untuk dinisbahkan kepada Nabi SAW.

Pembagian dan Macam-Macam Hadis. Para ulama hadis meninjau hadis dari dua segi, yaitu segi jumlah rawi dan segi nilai sanad.

Dari segi jumlah rawi, ada dua bentuk pembagian hadis. Bentuk pertama terbagi atas hadis mutawatir dan ahad. Bentuk kedua terbagi atas mutawatir, masyhur, dan ahad. Pembagian yang lebih praktis adalah bentuk pertama karena pada dasarnya hadis masyhur tercakup dalam hadis ahad, yang terbagi atas masyhur, ‘aziz, dangarib.

Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang pada setiap tingkat sanadnya, yang menurut tradisi mustahil mereka bersepakat untuk berdusta dan karena itu diyakini kebenarannya (Mutawatir). Hadis mutawatir betul-betul bersumber dari Nabi SAW. Hadis mutawatir sama dengan Al-Qur’an dalam hal keotentikannya ka­rena keduanya qat’i al-wurud (sesuatu yang pasti datangnya). Para ulama sepakat bahwa hadis mutawatir wajib diamalkan dalam seluruh aspek, termasuk dalam bidang akidah.

Adapun hadis ahad adalah hadis yang tidak memenuhi (mencapai) syarat-syarat mutawatir. Sedangkan hadis masyhur adalah hadis yang diriwa­yatkan oleh tiga rawi atau lebih, tetapi belum men­capai derajat mutawatir. Hadis ‘aziz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi pada satu tabaqat-nya, sekalipun setelah itu diriwayatkan pula oleh sejumlah rawi. Hadis garib adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat hanya satu orang rawi, di mana pun sanad itu terjadi.

Para ulama bersepakat bahwa kedudukan hadis mutawatir adalah sumber hukum kedua sesudah AlQur’an. Tentang kedudukan hadis ahad, menurut Abu Hanifah (Imam Hanafi), kalau rawinya orang-orang adil, dapat dijadikan hujah hanya pada bidang amaliah, bukan pada bidang akidah dan ilmiah. Menurut Imam Malik, hadis ahad dapat digunakan untuk menetapkan hukum-hukum yang tidak dijumpai dalam Al-Qur’an dan harus didahulukan dari kias zanm (tidak pasti). Sedang­kan menurut Imam Syafi’i, hadis ahad berfungsi sebagai hujah apabila rawinya memiliki empat syarat, yakni berakal, ddbit (memiliki ingatan dan ha-palan yang sempurna serta mampu menyampaikan hapalan itu kapan saja dikehendaki), mendengar langsung dari Nabi SAW, dan tidak menyalahi pen-dapat para ulama hadis.

Dari segi nilai sanad, hadis ada tiga macam, yaitu sahih, hasan, dan daif. Hadis sahih adalah hadis yang memenuhi persyaratan:

(1) sanadnya bersambung;

(2) diriwayatkan oleh rawi yang adil, memiliki sifat istiqamah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kehormatan diri)-nya, dan dabit’, dan

(3) matannya tidak sydzz (tidak mengandung kejanggalan-kejanggalan) serta tidak ber’illat (se-bab-sebab yang tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadis).

Hadis yang memiliki syarat-syarat tersebut juga disebut sahih li zatih. Tetapi, bila kurang salah satu syarat tersebut, namun bisa ditutupi dengan sesuatu cara lain, ia dinamakan sahih ligairih.

Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya ber­sambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil, tetapi tidak sempurna ddbit-nya, serta matannya tidak syazz dan ber-’illat. Hadis hasan dengan syarat-syarat demikian juga disebut hasan li zatih. Tetapi, bila dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak dike-nal/diketahui, namun ia bukan orang yang terlalu banyak membuat kesalahan, dinamakan hasan li gairih.

Adapun hadis daif (lemah) ialah hadis yang tidak mcmcnuhi syarat sahih dan hasan. Pembagian hadis daif tidak sesederhana pembagian hadis sa­hih atau hadis hasan karena kemungkinan kekurangan persyaratan sahih dan hasan itu sangat bervariasi. Karena itu, Ibnu Hibban (ahli hadis; w. 342 H) menyebutkan bahwa hadis daif ada 49 macam. Meskipun ini bukanlah pendapat mayoritas ulama hadis, hal tersebut dapat menggambarkan banyak-nya macam hadis daif. Kebanyakan kepustakaan menyebutkan jumlahnya secara terbatas.

Dari segi keterputusan sanad, hadis daif ada beberapa macam, yaitu:

(1) hadis mursal, yaitu ha­dis yang diriwayatkan oleh tabiin langsung dari Nabi SAW;

(2) hadis munqati’, yaitu hadis yang salah seorang rawinya gugur tidak pada sahabat, tetapi bisa terjadi pada rawi yang di tengah atau di akhir;

(3) hadis al-mu’dal, yaitu hadis yang dua orang rawinya atau lebih hilang secara berurutan dalam rangkaian sanad;

(4) hadis mudallas, yaitu hadis yang rawinya meriwayatkan hadis tersebut dari orang yang sezaman dengannya, tetapi tidak mene-rimanya secara langsung dari orang tersebut; dan (5) hadis mu’allal, yaitu hadis yang kelihatannya selamat, akan tetapi sebenarnya memiliki cacat yang tersembunyi, baik pada sanad maupun matannya.

Dari segi lain, hadis daif terbagi atas enam macam.

(1) Hadis mudtarib, yaitu hadis yang ke-mampuan ingatan dan pemahaman periwayatnya kurang.

(2) Hadis maqlub, yaitu hadis yang terjadi pembalikan di dalamnya, baik pada sanad, nama periwayat, maupun matannya.

(3) Hadis muda’af, yaitu hadis yang diperselisihkan oleh para ulama mengenai lemah atau kuatnya sanad atau matan­nya.

(4) Hadis syazz, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang siqah, tetapi riwayat-nya ini menyalahi riwayat orang banyak yang siqah pula.

(5) Hadis munkar, yaitu hadis yang diriwayat­kan oleh seorang yang lemah dan berbeda pula riwayatnya dengan riwayat yang siqah.

(6) Hadis matruk, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang dituduh suka berdusta, nyata kefa-sikannya, pelupa atau ragu dalam periwayatan.

Di samping hadis-hadis yang tergolong secara jelas ke dalam berbagai kelompok di atas, ada pula hadis yang tidak jelas kelompoknya dan mempu-nyai kemungkinan termasuk ke salah satu dari ke­lompok hadis sahih, hadis hasan, dan hadis daif.

Hadis-hadis yang termasuk ke dalam kelompok terakhir itu adalah sebagai berikut.

(1) Hadis marfu’, yaitu hadis yang disandarkan kepada Nabi SAW secara khusus, baik sanadnya bersambung maupun tidak.

(2) Hadis muttasil, yaitu hadis yang sanadnya bersambung sampai kepada Nabi SAW atau sahabat.

(3) Hadis musnad, yaitu hadis yang sanadnya bersambung sampai kepada Nabi SAW. Ada perbedaan antara hadis musnad dan hadis muttasil. Dalam hadis muttasil, ada kemungkinan persambungan sanadnya sampai kepada Nabi SAW yang disebut marfu’ atau kepada sahabat saja yang disebut mauquf. Sedangkan dalam hadis musnad, persambungan sanadnya harus sampai kepada Nabi SAW. Dengan demikian, hadis musnad dengan sendirinya adalah muttasil dan marfu’.

(4) Hadis mu’an’an, yaitu hadis yang di dalam sanadnya terdapat kata ‘an

(dari), seperti ‘anfuldn (dari si anu).

(5) Hadis muannan, yaitu hadis yang di dalam sa­nadnya terdapat kata anna (bahwa), seperti anna fuldnan (bahwa si anu).

(6) Hadis mu’allaq, yaitu hadis yang satu atau lebih (secara berurutan) peri­wayatnya dibuang pada permulaan sanadnya dan hadis tersebut disandarkan kepada orang selanjutnya.

(7) Hadis fard, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat saja meskipun banyak jalan periwayatan melaluinya.

(8 ) Hadis garib, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat secara sendirian di mana saja ia berada. Hadis garlb berbeda dari hadis fard. Kesendirian dalam hadis garib bisa saja di tengah sanad. Sedangkan kesen-dirian dalam hadis fard harus di pangkal sanad, yaitu pada generasi sahabat sebagai penerima per-tama hadis Nabi SAW.

Selain itu ada pula yang disebut hadis maudu’. Hadis maudu’ (hadis palsu) ialah sesuatu yang di-nisbahkan kepada Nabi SAW, tetapi sesungguhnya itu bukan merupakan perkataan, perbuatan, atau takrir Nabi SAW. Meskipun ada yang berpendapat bahwa hadis maudu’ sudah ada sejak masa Nabi SAW, namun jumhur (mayoritas) ahli hadis ber­pendapat bahwa hadis maudu’ mulai terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Talib, baik karena kete-gasan dan kehati-hatian periwayatan hadis di masa kekhalifahan sebelumnya maupun situasi politik di masa Ali, di mana perbenturan berbagai kepen-tingan semakin meningkat. Di antara ciri-ciri hadis maudu’ ialah:

(1) matan hadis tidak sesuai dengan fasdhah (kefasihan bahasa, kebaikan, kelayakan, dan kesopanan) bahasa Nabi SAW;

(2) bertentangan dengan Al-Qur’an, akal, dan kenyataan;

(3) rawinya dikenal sebagai pendusta;

(4) pengakuan sendiri dari pembuat hadis palsu tersebut;

(5) ada petunjuk bahwa di antara rawinya terdapat pen­dusta; dan

(6) rawi menyangkal bahwa ia pernah memberikan riwayat kepada orang yang membuat hadis palsu tersebut.

Dilihat dari segi rawi, peringkat pertama adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Peringkat kedua adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari saja.

Peringkat ketiga adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Muslim saja.

Pering­kat keempat adalah yang diriwayatkan oleh ulama-ulama lain yang memiliki persyaratan yang sama dengan persyaratan Bukhari dan Muslim.

Pering­kat kelima adalah yang diriwayatkan ulama lain yang sama persyaratannya dengan persyaratan Bu­khari saja. Sedangkan peringkat keenam adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh ulama lain yang persyaratannya sama dengan persyaratan Muslim saja

Peringkat dan Macam-Macam Kitab Hadis.

Apabila dikatakan bahwa kitab hadis itu berada pada peringkat pertama, tidak berarti setiap atau semua hadis yang dikandung oleh kitab itu otomatis menduduki peringkat pertama pula. Karena, bisa saja sebuah kitab hadis dikatakan berada pada pe­ringkat kedua, tetapi nilai hadis yang dikandungnya justru di peringkat pertama. Karena itu, pembicaraan mengenai peringkat suatu buku hadis, yang artinya melakukan penilaian menyeluruh terhadap-nya, bukan hanya menilai satu-persatu hadis yang dikandungnya, tetapi menilai seluruh aspek yang bisa dan patut dinilai dari kitab tersebut. Misalnya, nilai hadis, sistematika, syarat-syarat yang diterap-kan, dan ketelitian dari kitab tersebut. Oleh karenanya, wajar apabila dalam hal ini masih dijumpai perbedaan ulama dalam menetapkan peringkat kitab-kitab hadis. Walaupun demikian, para ulama umumnya dapat menerima enam kitab hadis seba­gai kitab standar. Keenam kitab tersebut dinamakan al-Kutub as-Sittah (Enam Kitab) atau al-Kutub as-Sihhah.

Secara berturut-turut peringkat al-Kutub as-Sit­tah adalah:

(1) Sahih al-Bukhari,

(2) Sahih Muslim,

(3) Sunan Abi Dawud,

(4) Sunan at-Tirmizt,

(5) Sunan an-Nasa’i, dan

(6) Sunan Ibn Majah.

Sebagian ulama memasukkan al-Muwatta’ karya Imam Malik ke dalam al-Kutub as-Sittah meng-gantikan Sunan Ibn Majah. Sebagian lainnya me­masukkan kitab Sunan ad-Darimi. Bahkan ada pula yang menempatkan kitab al-Muntaqd sebagai kitab keenam dari al-Kutub as-Sittah. Ulama wilayah Magrib menilai peringkat kitab Sahih Muslim lebih tinggi dari kitab Sahih al-Bukhari, karena meskipun persyaratan yang digunakan Muslim sedikit lebih longgar, namun kitab ini dipandang telah memenuhi syarat minimal dibandingkan dengan per­syaratan yang digunakan Bukhari yang lebih ketat namun mereka nilai berlebih-lebihan. Syarat yang dimaksud, misalnya, Bukhari menetapkan syarat liqd’ (bertemu antara rawi yang menyampaikan dan rawi yang menerima riwayat), sedangkan bagi Mus­lim syarat itu cukup mu’dsarah (satu masa hidup-nya).

Keempat kitab Sunan dalam al-Kutub as-Sittah disebut juga as-Sunan al-Arba’ah (Empat Sunan) atau al-Kutub al-Arba’ah (Empat Kitab). Penyisihan al-Kutub as-Sittah, atau juga biasa disebut al-A’immah as-Sittah (Para Imam Enam), oleh para ulama, lahir dari keinginan untuk menjadikan hadis sebagai dasar dan sebagai usaha mencari rujukan yang representatif sesudah Al-Qur’an. Selain itu, keenam kitab hadis tersebut dipilih karena cakup-an informasinya dinilai cukup. Dengan pertimbangan tersebut, kitab al-Muwatta’ tidak dimasuk-kan ke dalam al-Kutub as-Sittah. Sekalipun al-Mu­watta’ memuat hadis-hadis sahih, tetapi kitab ini tidak memberi informasi tambahan pada hadis-ha­dis yang termuat dalam al-Kutub as-Sittah. Ini ber-beda dengan Sunan Ibn Majah, yang sekalipun hadis-hadis di dalamnya tidak seluruhnya sahih, tetapi memberikan informasi tambahan. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa dalam al-Kutub as-Sittah sudah termuat informasi secara umum mengenai hadis. Dengan al-Kutub as-Sittah lahir kemudahan dalam mencari sumber primertentang hadis dan seseorang tidak harus membaca atau melihat semua kitab hadis.

Kitab Sahih al-Bukhari

disebut juga al-Jami’ as-Sahih, memuat 7.275 hadis, 4.000 di antaranya tidak diulang, merupakan hasil saringan dari 600.000 ha­dis. Di dalamnya terdapat fatwa sahabat dan tabiin yang dimaksudkan sebagai penjelasan terhadap ha­dis yang dikemukakan. Kitab ini menerapkan prin-sip-prinsip ilmu jarh dan ta’dil. Salah satu kritik yang diarahkan pada kitab Bukhari tersebut adalah dimuatnya hadis mu’allaq atau tergantung (hadis yang terputus sanadnya). Menjelaskan kritik ter­sebut, ulama lainnya menerangkan bahwa Bukhari dalam hal itu menggunakan lafal mabni II al-majhiil (kalimat pasif). Karenanya, bisa diduga bahwa Bu­khari sesungguhnya menyadari bahwa ia memuat hadis daif, tetapi sekedar sebagai pendukung.

Kitab Sahih Muslim

disebut juga al-Jami’ as-Sahih Muslim, yang menurut sebagian ulama me­muat 3.030 hadis, dengan pengulangan dan meng­gunakan berbagai macam sanad sebanyak 10.000 hadis. Sedangkan menurut ulama lainnya, memuat 4.000 hadis, dengan pengulangan jumlahnya 7.275 hadis. Hadis-hadis dalam kitab ini merupakan hasil penyaringan dari 300.000 hadis. Kitab ini tidak me­muat fatwa sahabat dan tabiin, menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh dan ta’dil, dan ditulis menurut sistematika kitab-kitab fikih. Kitab Muslim ini pun tidak luput dari kritik, yang meliputi segi sanad dan matan.

Jumhur ulama menerima pendapat bahwa Sahih al-Bukhdri lebih tinggi nilainya dari Sahih Muslim karena syarat yang ditetapkan Bukhari lebih ketat daripada syarat Muslim. Kelebihan Muslim dari Bukhari terletak pada sistematika kitabnya dan pada redaksi hadisnya, yang lebih banyak diriwayatkan secara bi al-lafz (dengan lafal sama dengan yang disampaikan Nabi SAW), sedangkan redaksi Bukhari lebih banyak secara bi al-ma’nd (menyam-paikan isi atau makna dari yang disabdakan Nabi SAW). Dengan demikian, bila terjadi perbedaan redaksi antara hadis Bukhari dan Muslim, umum-nya ulama lebih condong memilih redaksi yang di-gunakan oleh Muslim.

Sunan Abi Dawud

memuat 4.800 hadis dari pe­nyaringan sekitar 500.000 hadis yang dihapal oleh Abu Dawud atau 5.274 hadis dengan pengulangan-nya. Kitab ini memuat hadis-hadis yang sahih, me-nyerupai sahih, dan mendekati sahih. Karena me­muat penjelasan ketidaksahihan hadis-hadis, yang

menurut pengarangnya tidak sahih, kitab ini dina-makan kitab Sunan. Meskipun demikian, salah satu kritik yang ditujukan pada kitab ini adalah masih terdapatnya hadis-hadis daif di dalamnya yang tidak dijelaskan kedaifannya. Ciri khas kitab karya Abu Dawud ini adalah kaya dengan hadis-hadis tentang hukum.

Sunan at-Tirmizi atau Jdmi’ at-Tirmizi,

seperti kitab-kitab lainnya yang diberi nama Jami’, mencakup pokok-pokok pembahasan yang populer, an­tara lain Bab al-’Aqidah (Keimanan), al-Ahkam (Hukum), ar-Razzaq (Pemberi Rezeki), Adab at-Ta’am wa asy-Syurb (Sopan Santun Makan/Mi-num), at-Tafsir wa at-Tdrikh wa as-Sayr (Tafsir, Se-jarah, dan Biografi), as-Safar wa al-Qiydm wa al-Qu’ud (Bepergian, Berdiri, dan Duduk), al-Fitan (Malapetaka), dan al-Manaqib wa al-Masalib (Metode-Metode atau Jalan). Kitab ini disebut juga kitab Sunan karena ia menjelaskan tentang rawi dan nilai hadisnya. Kitab ini menggunakan istilah-istilah yang juga menjadi ciri khas kitab ini yang sebelumnya tidak dikenal, bahkan sampai seka-rang, misalnya, garib, hasan, dan hasan sahih. Kitab ini memuat penjelasan yang terperinci mengenai ‘ulum al-hadis (ilmu-ilmu hadis), yang menjadi ke-istimewaan lainnya dari karya Imam at-Tirmizi ini. Dengan segala kelebihannya ini maka banyak ula­ma yang membuat syarah (keterangan) terhadap kitab ini. Namun banyak juga ulama yang meragu-kan hasil pen-tashih-an dan pea-tahsin-an (upaya penyeleksian hadis-hadis) dari at-Tirmizi karena dipandang kurang ketat dalam menentukan kuali-tas hadis.

Sunan an-Nasa’i

dikenal juga dengan nama Su­nan al-Mujtaba atau Sunan as-Sugrd, merupakan hasil seleksi, baik kuantitas maupun kualitas, dari hadis-hadis yang terdapat dalam kitab as-Sunan al-Kubra karya Imam an-Nasa’i sebelumnya, yang masih bercampur di dalamnya hadis-hadis sahih, hasan, dan daif. Kitab ini memuat 5.761 hadis. Salah satu keistimewaannya adalah kitab ini ketat dalam pen-tashih-an. Kritik terhadap kitab ini ada­lah beberapa hadis di dalamnya seringkali diulangi. Misalnya, hadis tentang niat terulang sampai 16 kali.

Sunan Ibn Majah

adalah kitab hadis yang di dalamnya terdapat bukan saja hadis sahih dan ha­san, tetapi juga hadis daif dan bahkan hadis munkar (hadis yang sangat lemah). Itulah yang menjadi sasaran kritik dan yang mengeluarkannya dari al-Kutub as-Sittah, yang kemudian digantikan dengan kitab al-Muwatta’. Tetapi, karena kitab ini memuat dan memberi informasi mengenai hadis-hadis yang tidak terdapat dalam lima kitab lainnya dalam al-Kutub as-Sittah, jumhur ulama menetapkannya da­lam kelompok al-kutub as-Sittah dan mengeluarkan al-Muwatta’ karya Imam Malik, yang dinilai sebagai bukan kitab hadis dan juga karena hadis-hadis yang dimuatnya sudah dicakup oleh keenam kitab lainnya. Walaupun demikian, dari segi kesahihan hadis, ada ulama yang menempatkan al-Mu­watta’ pada urutan sesudah Sahih al-Bukhdri dan Sahih Muslim, bahkan pada urutan di atas kedua kitab tersebut. Sehingga, dari segi ini, kitab-kitab Bukhari, Muslim, dan Malik tersebut merupakan kitab hadis peringkat pertama, sedangkan empat kitab Sunan lainnya pada peringkat kedua.

Selain itu ada beberapa macam lagi kitab hadis.

Dari segi kronologi penyusunannya adalah

(1) al-Musannaf,

(2)al-Musnad,

(3)Sahih,

(4) al-Mu’jam,

(5) al-Mustadrak, dan

(6) al-Mustakhraj.

Al-Musannaf

adalab kitab hadis yang ditulis jauh sebelum Sunan al-Bukhari dan hadis-hadis di dalamnya disusun berdasarkan bab-bab tertentu. Di Mekah, Madinah, Kufah, dan Khurasan bermun-culan kitab-kitab hadis yang tergolong al-Musan-naf. Kitab al-Muwatta’ tergolong ke dalam kitab yang bercorak alMusannaf.

Al-Musnad

adalah kitab hadis yang muncul setelah al-Musannaf. Kitab ini disusun secara bagian per bagian berdasarkan nama sahabat yang meri-wayatkannya. Misalnya, hadis-hadis yang diriwa-yatkan oleh Abu Hurairah dikelompokkan menjadi satu dan demikian pula untuk sahabat yang lain. Kitab ini sudah tidak memuat fatwa sahabat dan tabiin, walaupun metode isndd (misalnya, menje-laskan tentang hadis sahih, hasan, dan daif) belum tampak diterapkan di dalamnya. Musnad Abi Dd-wud Sulaimdn at-Tayalisi (133-203 H) disebut se­bagai kitab al-Musnad yang pertama ditulis. Di masa ini pula Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) menulis Musnad-nya, yang oleh banyak ahli dipan-dang yang paling komprehensif.

Kitab Sahih

adalah kitab hadis yang menurut pengarangnya hanya memuat hadis-hadis yang nilainya sahih. contohnya, kitab Sahih al-Bukhdri dan Sahih Muslim.

Al-Mu’jam

(semacam indeks) adalah kitab hadis yang memuat hadis-hadis menurut nama-nama sa­habat, guru, kabilah atau tempat hadis itu diperoleh, yang disusun secara mu’jam (alfabetis). Con­tohnya yang termasyhur adalah al-Kabir, al-Muta-wassit, dan as-Sagir, semuanya karya at-Tabrani.

Al-Mustadrak

adalah kitab hadis yang memuat hadis-hadis yang tidak diriwayatkan oleh kitab-kitab lainnya, padahal hadis itu sahih menurut pengarang al-Mustadrak. Contohnya, al-Mustadrak karya al-Hakim an-Naisaburi.

Al-Mustakhraj

adalah kitab hadis yang memuat hadis-hadis yang diambil dari suatu kitab tertentu dengan tidak mcngikuti cara dan sanad dari kitab tersebut. Penulis al-Mustakhraj menyusun dan membuat sanadnya sendiri, yang pada akhirnya bertemu juga dengan sanad hadis yang diambil dari kitab tersebut. Contohnya, al-Mustakhraj Abu Bakar al-Isma’ili yang hadis-hadisnya diambil dari kitab Bukhari.

Ensiklopedi Hadist Part 3

Kajian llmu Hadis.

Kajian tetang hadis dise­but ‘Ulum al-Hadis. Berbagai karya menyangkut kajian tersebut meliputi bermacam aspek dan telah ditulis oleh banyak ahli dari berbagai kalangan. Orang pertama yang mencoba menyusun sebuah karya yang menyeluruh ialah Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi (265-360 H), yang menulis sebuah karya panjang terdiri atas tujuh bagian yang ber-judul al-Muhaddis al-Fasil bain ar-Rawi wa al-Wd’iz (Ahli Hadis yang Memisahkan Antara Rawi dan Pemberi Nasihat).

Al-Hakim an-Naisaburi telah menulis sebuah karya yang lebih sistematis dengan judul Ma’rifah ‘Ulum al-Hadis (Makrifat llmu Ha­dis), yang dibagi ke dalam 52 kategori, yang me­rupakan model tulisan yang diikuti oleh banyak penulis sesudahnya. Karya Ibnu Salah, ‘Ulum al-Hadis (llmu Hadis), yang dipandang sebagai karya klasik dalam hal ini, mengandung 65 kategori. Kajian tersebut mencakup secara terperinci ber­bagai pokok persoalan yang menyangkut peringkat hadis dan para rawi, cara mempelajari dan meri-wayatkan hadis, aturan tentang detail-detail tulisan tangan hadis, cara membuat koreksi yang diperlukan terhadap sebuah manuskrip, dan bahkan me­nyangkut periwayatan mulai berlangsung dan berhenti.

llmu hadis terbagi atas dua bagian besar, yaitu ilmu hadis riwayah dan ilmu hadis dirayah.

llmu Hadis Riwayah.

Bagian dari ilmu hadis yang mempelajari cara-cara penukilan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan hadis (segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muham­mad SAW berupa perkataan, perbuatan, dan ikrar). Sedangkan tujuannya adalah menjadikan Nabi SAW sebagai suri teladan dan terutama untuk memahami hadis-hadis Nabi SAW sebagai penjelas wahyu Al-Qur’an.

Ulama pelopor dalam bidang ilmu ini ialah Mu­hammad bin Syihab az-Zuhri (51-124 H), seorang imam dan ulama besar di Hedjaz dan Syam (Suriah), yang tercatat sebagai orang pertama yang tnenghimpun hadis-hadis Nabi SAW atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Umar II, memerin-tah 99-102 H/717-720 M).

Yang menjadi objek kajian ilmu hadis riwayah adalah

(1) cara periwayatan hadis, yang meliputi bagaimana cara penerimaan hadis dan penyam-paiannya kepada orang lain dan

(2) penulisan atau pembukuan hadis. Dengan demikian ilmu ini tidak berkompeten membicarakan ke-siqah-an (siqah = terpercaya) rawi dan kejanggalan/kesalahan matan hadis karena hal tersebut bukan merupakan objek kajian ilmu hadis riwayah.

Sebelum Al-Qur’an selesai ditulis, para sahabat secara resmi dilarang menulis hadis, sehingga hadis tersebut disimpan melalui hapalan para sahabat. Pada sisi lain, Nabi SAW dalam berbagai perkata-an, perbuatan, dan takrirnya, tidak selalu dalam kondisi yang sama.

Maka dalam transmisi (peri­wayatan) hadis ini terdapat beberapa faktor yang menjamin terpeliharanya keaslian hadis sejak pe­nerimaan pertama dari Rasulullah SAW sampai masa hadis dibukukan, yaitu:

(1) cara Nabi SAW berbicara perlahan-lahan, tegas, dan jelas, bahkan sering mengulangnya sampai tiga kali;

(2) Nabi Muhammad SAW menyampaikannya dengan fasih (Nabi SAW dikenal sebagai seorang yang fasih dan ballg [menggunakan bahasa yang baik dan benar] atau ana afsahu min nutqifi ad-dad);

(3) Nabi SAW sering menyesuaikan dialeknya dengan dialek lawan bicaranya;

(4) para sahabat yang menerima hadis sangat hormat kepada Nabi SAW dan memandangnya sebagai idola mereka;

(5) sahabat yakin betul bahwa apa yang diucapkan Nabi SAW mengandung makna yang dalam sehingga mereka mendengarkannya dengan tekun;

(6) orang-orang Arab memiliki kcmampuan menghapal yang luar biasa; dan

(7) pada tingkat tabiin, transmisi hadis dan keasliannya juga dijamin oleh anggapan para tabiin bahwa apa yang diterimanya itu semuanya adalah sesuatu yang berharga.

Adapun periwayatan (transmisi) hadis oleh para sahabat, tabiin, dan tabi’ at-tabi’in (setelah gene-

rasi tabiin) dilakukan dengan dua cara, yaitu

(1) periwayatan dengan lafal (riwayah bi al-lafzl) dan

(2) periwayatan dengan makna (riwayah bial-ma’na).

Periwayatan dengan lafal adalah periwayatan yang disampaikan sesuai dengan lafal yang dikata-kan oleh Nabi SAW secara persis. Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan dengan lafal ini sangat sedikit jumlahnya. Ciri-ciri hadis yang diriwayatkan dengan lafal ini antara lain:

(1) hadis-hadis tentang doa;

(2) dalam bentuk muta’abbad (sanadnya memperkuat hadis lain yang sama sanadnya), an­tara lain tentang azan dan syahadat; dan

(3) tentang jawdmi’ al-kalimah (kata-kata yang padat dan da­lam pengertiannya).

Sedangkan periwayatan hadis dengan makna adalah hadis yang diriwayatkan sesuai dengan makna yang dimaksudkan oleh Nabi SAW, meskipun dari segi redaksi terdapat perubahan. Kebanyakan hadis Nabi SAW diriwayatkan dalam ben­tuk ini karena Rasulullah SAW memberikan isyarat bahwa meriwayatkan hadis dengan riwayah bi al-ma’na dibolehkan. Namun dalam hal ini dituntut syarat-syarat yang sangat ketat, yaitu:

(1) yang me­riwayatkan hadis tersebut paham betul isi dan kandungan hadis yang dimaksud;

(2) rawi tersebut harus memahami secara luas perbedaan-perbedaan lafal muradif (sinonim) dalam bahasa Arab;

(3) rawi tersebut hanya lupa lafal hadis yang disam­paikan Rasulullah SAW, sementara maknanya di-ingat secara persis;

(4) muslim;

(5) balig;

(6) adil; dan

(7) dabit (cermat dan kuat).

Dalam hal periwayatan hadis, masalah lain yang menjadi bahasan adalah at-tahammul (sigat at-tahammul atau sigat al-isnad) dan al-’ada’. At-Ta-hammul adalah cara atau praktek seseorang dalam menerima hadis dari guru (syekh)-nya. Adapun al-’ada’ adalah cara atau praktek yang ditempuh oleh seorang rawi dalam meriwayatkan hadis kepada pihak yang menerimanya.

Ilmu Hadis Dirayah.

Ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadis, sifat-sifat rawi, dan lain-lain. Sasaran kaji-annya adalah keadaan matan, sanad, dan rawi ha­dis. Sedangkan kegunaannya adalah untuk me­ngetahui dan menetapkan maqbul (diterima) dan mardud (ditolak)-nya suatu hadis. Dirayah secara bahasa berarti pengetahuan dan pengenalan.

Penelitian terhadap rawi-untuk mengetahui di­terima atau ditolak riwayatnya-meliputi penelitian tentang keadaannya pada waktu menerima dan menyampaikan hadis kepada orang lain, dan sifat ter-cela atau adil yang dimilikinya serta pengetahuan tentang negeri, keluarga, kelahiran, dan wafatnya. Penelitian tentang hal ihwal yang diriwayatkan (sanad dan matan hadis) menyangkut syarat-syarat periwayatan ketika menerima dan menyampaikan hadis kepada orang lain, bersambung atau terputus sanadnya, pengetahuan tentang cacat-cacatnya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan diterima atau ditolaknya hadis tersebut.

Ilmu dirayah menjadi alat bagi ilmu riwayah. Sekalipun ilmu dirayah telah menjadi pembahasan para ulama sejak abad ke-2 H, namun ilmu ini belum dibahas secara khusus dalam sebuah kitab tertentu. Baru pada masa Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi pembahasan mengenai ilmu ini di-tuangkan dalam sebuah karya tulis.

Ilmu hadis dirayah bertujuan untuk menetapkan diterima atau ditolaknya sebuah hadis dan selanjut-nya dapat dipertimbangkan untuk diamalkan atau ditinggalkan. Ilmu ini disebut juga ‘ulum al-hadis (ilmu hadis), mustalah al-hadis (ilmu mustalah ha­dis), atau ‘Urn usulal-hadis (ilmu dasar hadis). Berdasarkan keterangan di atas, seseorang yang mendalami hadis tidak dapat melepaskan diri dari ilmu hadis dirayah-sebagaimana juga ilmu hadis riwayah-karena dengan ilmu itulah ia dapat membeda-kan antara hadis yang diterima dan yang ditolak.

Kajian ilmu hadis dirayah sangat luas, sehingga banyak cabang-cabangnya. Imam as-Suyuti mengatakan bahwa cabang-cabang ilmu itu banyak sekali sehingga tak terhitung. Ibnu Salah (ahli ha­dis; w. 642 H/1246 M) menyebutkan enam macam dan setiap macam bisa berkembang menjadi tak terbatas. Namun al-Hafiz bin Kasir (ahli hadis; w. 774 H) mengomentari bahwa pembagian Ibnu Salah tersebut dapat ditinjau kembali.

Ilmu hadis dirayah memiliki cabang-cabang yang berkaitan dengan sanad dan rawi, dan matan hadis. Cabang-cabang yang berkaitan dengan sa­nad dan rawi yang terpenting di antaranya ialah

‘lrn al-jarh wa at-ta’dil,

‘lrn rijal al-hadis, dan

‘lrn tabaqatar-ruwat.

Sedangkan yang berkaitan dengan matan hadis adalah

‘lrn garib al-hadis,

‘lrn asbab wurud al-hadis,

‘lrn tawarikh al-mutun,

‘lrn talfiq al-hadis,

‘lrn at-tasifwa at-tahnf, dan

‘lrn an-nasikh wa al-mansukh.

‘Ilm al-jarh wa at-ta’dil

adalah ilmu yang membahas hal ihwal rawi dengan menyoroti kesalehan (’adalah) dan kejelekannya, sehingga dengan demikian periwayatannya dapat diterima atau dito­lak. Untuk menunjukkan kekuatan periwayatan se­seorang digunakan ungkapan-ungkapan tertentu, seperti “orang yang paling terpercaya”, “orang yang teguh lagi teguh”, dan “orang yang tidak cacat”. Untuk menunjukkan kelemahan periwayatannya digunakan ungkapan, seperti “orang yang paling dusta”, “orang yang perlu diteliti”, dan “orang yang tak dikenal”.

Berkaitan dengan ‘Urn al-jarh wa at-ta’dil, para ahli hadis menggunakan istilah-istilah yang meliputi jarh, tajrih, ‘adl, dan ta’dll. Jarh adalah penolakan seorang ahli hadis terhadap riwayat seorang rawi karena adanya indikasi tentang cela perangai atau riwayatnya. Para ulama merumuskan sebab-sebab sebagai berikut.

1.Al-bid’ah atau bidah (menambah-nambah urusan agama). Bidah ada dua macam, yakni yang berat dan yang ringan. Pada bidah yang berat, pelakunya dipandang keluar dari agama. Pada bidah yang ringan, pelakunya tidak keluar dari agama. Rawi yang terbukti melakukan bidah yang berat, riwayatnya langsung ditolak. Sedangkan yang mclukukan bidah yang ringan, ri­wayatnya yang sesuai atau sejalan dengan perbuat-an bidahnya tersebut ditolak dan yang tidak sejalan boleh diterima.

2 Al-jahalah atau tidak dikenal/ asing. Al-jahalah juga ada dua macam, yakni jahalah al-’ain atau tidak dikenal siapa rawi tersebut dan jahalah al-hal atau tidak dikenal siapa rawi itu secara lebih jauh (kepribadian, keadaan, dan lain-lain). Riwayat kedua macam rawi tersebut ditolak.

(3) Al-galat atau tidak kuat/kacau/salah hapalan. Semakin banyak riwayat dari seorang rawi yang tidak selaras, apalagi berlawanan, dengan riwayat-riwayat lainnya, maka semakin galat rawi tersebut; demikian pula sebaliknya. Bagian ini, menurut para ulama, mencakup pula syazz (mengandung kejang-galan-kejanggalan) dan da’wah al-inqitd’ (seorang rawi menyebut rawi di atasnya yang ia sendiri di-duga kuat tidak pernah bertemu dengannya).

Tajrih adalah identifikasi terhadap seorang rawi dengan berbagai karakter yang melemahkannya atau menyebabkan riwayatnya ditolak. Di antara pengertian ‘adl yang diberikan oleh ulama adalah seorang yang muslim, balig/dewasa, berakal, dan tidak fasik. Adapun pengertian ta’ill adalah iden­tifikasi terhadap seorang rawi dengan mencari-cari sifat-sifat baiknya, sehingga periwayatannya dapat diterima. Disyaratkan bagi orang yang melakukan tajrih (jarih) dan ta’dil (mu’addit) untuk memiliki ilmu, takwa, warak, jauh dari sifat ta’assub (mencintai sesuatu secara berlebihan, fanatik), dan mengetahui sebab-sebab jarh dan ta’dil. Selain itu disebutkan pula bahwa mu ‘adlil dan jarih harus terlebih dahulu seorang yang adil, sadar akan pekerjaan/ kajiannya, jujur, dan tidak ta’assub, tidak berbangga diri, dan menguasai sebab-sebab jarh dan ta’dil.

Ada beberapa prinsip yang dibuat oleh para ulama hadis guna menyelesaikan masalah perten-tangan antara jarh dan ta’dil.

(1) Mendahulukan jarh dan ta’dil, sekalipun mu’addil-nya lebih banyak daripada jarihnya.

(2) Mendahulukan ta’dil atas jarh bila ternyata mu’addil lebih banyak dan jarih.

(3) Tidak melakukan tarjih (menguatkan salah satu) antara keduanya, kecuali bila ada suatu penguat atau tetap mengamalkan keduanya sampai muncul suatu penguat atas salah satunya.

Prinsip yang paling banyak dianut dan dipakai, balk oleh ulama mutakadimin maupun muta’akhkhirin (ula­ma setelah abad ke-3 H), adalah yang pertama.

‘Ilm rijdl al-hadis

adalah ilmu yang mengkaji ke-adaan para rawi dan peri kehidupan mereka, baik dari kalangan sahabat, tabiin, maupun tabi’i at-tabi’in. Bagian dari ‘Urn rijdl al-hadis adalah ‘Urn tdrikh rijdl al-hadis. Ilmu ini mengkaji keadaan rawi dengan penekanan pada aspek-aspek tanggal kela-hiran, garis keturunan, guru sumber hadis, jumlah hadis yang diriwayatkan, dan murid-muridnya.

‘Ilm tabaqat ar-ruwat

adalah ilmu yang mem-bahas keadaan rawi berdasarkan pengelompokan tertentu.

‘Ilm garib al-hadis ialah ilmu yang membahas masalah kata atau lafal yang terdapat pada matan hadis yang sulit dipahami, baik karena kata atau lafal tersebut jarang sekali dipakai, nilai sastranya yang tinggi, maupun karena sebab yang lain. Ulama yang dipandang sebagai perintis di bidang ini ialah Abu Ubaidah Ma’mar bin Musanna at-Taimi (w. 210 H).

‘Ilm asbab wurud al-hadis

adalah ilmu yang mem­bahas sebab-sebab atau latar belakang lahirnya suatu hadis. Perintis di bidang ini antara lain Abu Hamid bin Kaznah al-Jubari dan Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Raja al-Ukbari.

‘Ilm tawdrikh al-mutun

ialah ilmu yang mengkaji waktu terjadinya suatu hadis; berguna untuk pem-bahasan masalah *ndsikh-mansukh suatu hadis. Al-Imam Sirajuddin Abu Hafs Amr al-Bukqini di-anggap sebagai perintis ilmu di bidang ini.

‘Ilm talfiq al-hadis

adalah ilmu yang membahas cara menyelesaikan atau memadukan masalah dua hadis yang secara lahir tampak saling bertentangan. Imam Syafi’i dipandang sebagai ulama yang mula-mula menyusun buku di bidang ini dengan karyanya yang berjudul Mukhtalifal-Hadis.

‘Ilm at-tasifwa at-tahnf

ialah ilmu yang mengkaji hadis yang telah mengalami perubahan tanda baca titik dan bentuknya. Ulama yang dipandang seba­gai perintis di bidang ini adalah Daruqutni (w. 358 H) dan Abu Ahmad al-Askari (w. 283 H).

‘Ilm an-nasikh wa al-mansukh

adalah ilmu yang membahas penyelesaian hadis-hadis yang berten­tangan dan tidak dapat dikompromikan. Penyelesaiannya dilakukan melalui sejarah munculnya ha­dis-hadis itu, Setelah ditemukan sejarahnya, mana yang lebih dulu muncul dan mana yang kemudian, maka hadis yang terdahulu di-nasakh-kan dengan hadis yang kemudian. Misalnya, hadis yang artinya: “Berbukalah orang yang membekam dan yang dibekam” (HR. Ahmad bin Hanbal atau Imam Han-bali) dan hadis: “la (Nabi) berbekam sedang dalam keadaan berpuasa dan ihram” (HR. Ahmad bin Hanbal). Hadis pertama adalah penjelasan Nabi SAW tentang hukum perbuatan Ja’far bin Abi Talib (sahabat dan saudara Ali bin Abi Talib) sebelum penaklukan Mekah dan hadis kedua ada­lah keterangan Ibnu Abbas (Abdullah bin Abbas) tentang perbuatan Nabi SAW. Sedangkan Ibnu Abbas masuk Islam bersama bapaknya pada masa penaklukan Mekah. Karena itu, hadis yang per­tama dinasakh-kan dengan hadis kedua.

Di samping yang telah disebutkan di atas, masih terdapat cabang-cabang ilmu yang menyangkut sanad dan matan sekaligus, yaitu ‘ilm ‘Hal al-hadis dan ‘ilm al-fann al-mubhamat. ‘Ilm ‘Hal al-hadis adalah kajian mengenai sebab-sebab yang samar atau tersembunyi yang dapat mengakibatkan suatu hadis dinilai cacat. Sedangkan ‘ilm al-fann al-mubhamat ialah kajian mengenai nama-nama orang yang tidak disebutkan dalam matan dan sanad.

Kajian-kajian dalam lapangan ilmu hadis sangat berkembang sehingga memberi peluang bagi kritik-kritik yang ditujukan pada hadis, baik sanad mau­pun matannya. Di kalangan ahli-ahli ketimuran (orientalis) pernah muncul pandangan bahwa terhadap hadis hanya dilakukan kritik sanad, sedang-kan kritik matan tidak dilakukan. Pandangan ter­sebut sesungguhnya tidak tepat karena kajian-ka jian terhadap sanad dan matan pada hakikatnya adalah kajian kritis dan telah muncul sejak masa yang dini dari perkembangan hadis, baik itu dila-kukan oleh para sahabat, para penulis hadis, mau-pun ulama-ulama hadis yang datang kemudian. Kritik hadis tidak ada di masa Nabi SAW karena persoalan-persoalan yang muncul dapat ditanya-kan langsung kepada Nabi SAW. Kritik hadis di-mulai setelah wafatnya Nabi SAW.

Kritik sanad meliputi empat hal.

(1) Ittisdl as-sanad (bersambungnya sanad). Karenanya tidak dibenarkan adanya sanad yang gugur, tersembunyi, tidak dikenal atau samar.

(2) Siqah as-sanad, yaitu rawi harus seorang yang ‘adl, dabit (cermat dan kuat), dan terpercaya.

(3) Syazz (kejanggalan). Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh seorang siqah secara menyendiri dan bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh rawi siqah lainnya. Syazz juga berlaku terhadap matan hadis.

(4) ‘Illat, yakni cacat yang tersembunyi pada suatu hadis yang keli-hatannya baik atau sempurna.

Adapun kritik matan meliputi lima hal.

(1) Rakakah al-lafzh, yakni kejelekan dan kejanggalan pada susunan redaksi hadis.

(2) Fasad al-ma’nd, yakni terdapat cacat pada makna hadis karena ber­tentangan dengan al-hiss (indera) dan akal.

(3) Bertentangan dengan nas Al-Qur’an.

(4) Berten­tangan dengan fakta sejarah yang terjadi di masa Nabi SAW.

(5) Hadis tersebut mencerminkan fanatisme golongan.

Pembicaraan tentang hadis dirayah sudah dimulai sejak zaman sahabat. Kemudian berkembang pada zaman tabiin dan menjadi sebuah ilmu yang berdiri sendiri pada abad ke-3 H. Di antara kitab-kitab pertama yang menyangkut hadis dirayah ada­lah Tabaqat Ibn Sa’d (generasi periwayat hadis) oleh Ibnu Sa’ad (w. 230 H), ‘Hal al-Hadis wa Ma’rifah ar-Rijal (meneliti kecacatan hadis dan mengetahui periwayat hadis) oleh al-Madini (w. 234 H), Ganb al-Hadis (kitab yang memuat hadis garib/aneh) oleh Abu Ubaid al-Qasim bin Salam (w. 224 H), Ta’wil Mukhtalif al-Hadis (mengambil jalan keluar dari hadis-hadis yang maknanya bertentang­an) oleh Ibnu Qutaibah (w. 276 H), dan kemudian al-Jarh wa at-ta’dil (menilai cacat atau adilnya peri­wayat hadis) oleh Abdur Rahman bin Abi Hatim ar-Razi (w. 326 H) dan al-Muhaddis al-Fdsil (peri­wayat hadis pilihan) oleh al-Qadi Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi (w. 360 H).

Di antara masalah yang menjadi bahasan ilmu

hadis dirayah adalah yang menyangkut pembagian hadis dari segi nilainya, yaitu hadis sahih, hadis hasan, dan hadis daif. Demikian juga masalah usia periwayat ketika menerima hadis, cara menerima dan menyampaikan hadis yang diriwayatkannya ke­pada orang lain serta jarh dan ta’dil.

Topik ini dibuat oleh baca_dulu n sis Hercule
naskah aslinya dapat dilihat di sini